Home / Artikel / Berita

Sunday, 16 November 2025 - 21:17 WIB

GEMURUH INTELEKTUAL DI AL-FARUQ, Dialog Kebudayaan Islam: Membuka Tabir Sejarah Peradaban Kutai Timur

SANGATTA, KUTAI TIMUR (17–November- 2025) Masjid Islamic Center Al-Faruq Sangatta bergetar menahan dahsyatnya gelombang kesadaran historis pada Senin, 17 November 2025. Dialog Kebudayaan Islam yang digelar bukan sekadar diskusi biasa, ini adalah episentrum kebangkitan intelektual yang merekonstruksi genealogi peradaban Islam di bumi Borneo Timur.

Ratusan peserta dari berbagai profesi hadir bagaikan mosaik pengetahuan, membentuk heterogenitas intelektual yang memukau. Dalam perspektif antropologi Clifford Geertz, kebudayaan adalah “webs of significance”—jaring makna yang ditenun manusia. Dialog ini adalah upaya sistematis mendekonstruksi dan merekonstruksi jaring makna Islam dalam historisitas Kutai Timur.

NEGARA SEBAGAI KURATOR MEMORI KOLEKTIF

Fadli, perwakilan Dinas Kebudayaan Kutai Timur, menegaskan dengan wibawa: “Budaya Islam telah menjadi lokus kebiasaan masyarakat yang terus hidup hingga kini. Ia bukan fosil museum, melainkan organisme yang bernapas dalam setiap denyut nadi kehidupan masyarakat.”

“Acara ini titik awal penyusunan buku sejarah kebudayaan Islam di Kutai Timur. Kami ingin merangkum perjalanan panjang ini secara akademis dan komprehensif. Ini bukan sekadar buku—ini ensiklopedia peradaban, mercusuar bagi generasi mendatang.”

GENEALOGI ISLAMISASI: MULTI-KANAL PERADABAN

Yaqub Fadillah, S.IP., membawa audiens dalam perjalanan menembus ratusan tahun sejarah: “Jejak masuknya Islam di Kutai Timur memiliki ragam jalur—dakwah, diplomasi, penaklukan, hingga perdagangan. Proses ini berjalan melalui profesi pendakwah, dinamika sosial, praktik perbudakan masa lampau, serta pernikahan lintas etnis.”

Dengan metafora puitis, ia melanjutkan: “Islam datang bukan seperti banjir bandang yang menghancurkan, melainkan seperti embun pagi yang perlahan meresap, menyuburkan dan menghidupkan.”

Analisis ini sejalan dengan teori difusi budaya Leo Frobenius—transmisi budaya terjadi melalui multiple channels dengan adaptasi tinggi terhadap local wisdom.

KONTEKSTUALISASI SOSIO-KULTURAL

Abdul Basir, Lc., M.H. memperdalam diskursus: “Historisitas serta konteks sosial kultural memegang peran signifikan. Islam yang berkembang di Kutai Timur adalah Islam kontekstual, yang ber-dialog dengan realitas lokal.”

“Keterlibatan peserta dari berbagai profesi menandakan kajian kebudayaan Islam bukan hanya milik akademisi di menara gading, tetapi kepentingan bersama. Ini demokratisasi pengetahuan dalam bentuk paling murni.”

TESTIMONI: SUARA GARDA TERDEPAN PERGERAKAN ISLAM

Baca Juga  Momentum Tahun baru Islam 1447 H : Mari Luruskan Kembali niat Kita

Gatot Sudiarjo, perwakilan Pemuda Muhammadiyah Kutai Timur, memberikan testimoni menggetarkan dengan mata memancarkan api semangat:

“Alhamdulillah, dialog ini adalah gempa intelektual yang telah lama kami nantikan. Sebagai generasi muda Muhammadiyah, kami menyaksikan diskursus ini membuka mata hati kami terhadap akar sejarah yang tersembunyi dalam kabut ketidaktahuan.”

Gatot menutup dengan seruan penuh harapan: “Pemuda Muhammadiyah siap menjadi garda terdepan menyebarluaskan pengetahuan ini. Kami akan menjadikan masjid, sekolah, kampus, dan media sosial sebagai arena penyebaran kesadaran historis. Karena bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya!”

IMPLIKASI DAN VISI FUTURISTIK

Dialog ini menandai transisi dari oral history menuju written historiography yang sistematis. Mengadopsi triangulasi sumber—tertulis, lisan, dan material—pendekatan ini sejalan dengan “thick description” Clifford Geertz.

Dalam konteks globalisasi yang mengancam homogenisasi budaya, kodifikasi sejarah ini adalah resistensi kultural terhadap hegemoni budaya global. Samuel Huntington menyebutkan identitas kultural menjadi basis kohesi sosial abad ke-21.

KESIMPULAN: SEJARAH ADALAH GURU KEHIDUPAN

Dialog Kebudayaan Islam di Masjid Al-Faruq, 17 November 2025, adalah momen transformatif dalam sejarah intelektual Kutai Timur. Ini bukan acara seremonial, ini deklarasi intelektual, manifesto kultural, proklamasi bahwa masyarakat Kutai Timur siap mengambil kendali atas narasi sejarahnya sendiri.

Kedapannya kejadian yang akan disusun diharapkan menjadi magnum opus yang merekam masa lalu dan menerangi masa depan—kompas bagi generasi mendatang memahami identitas, akar budaya, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan peradaban Islam. Kutai Timur kini berdiri di ambang sejarah baru—era di mana kesadaran historis dan identitas kultural menjadi fondasi masyarakat bermartabat dan beradab. “Historia est magistra vitae” – Sejarah adalah guru kehidupan. Dialog ini membuktikan kebenaran adagium Cicero tersebut.

Baca Juga  SD MUHAMMADIYAH SANGATTA SELATAN GELAR MIC 2025, CETAK GENERASI QUR’ANI DAN BERPRESTASI

Wallahu a’lam bishawab.

Narasumber: Fadli (Dinas Kebudayaan) | Yaqub Fadillah, S.IP. | Abdul Basir, Lc., M.H. | Ust. Maksum Alit,S.H.I

Lokasi: Masjid Islamic Center Al-Faruq Sangatta | Tanggal: 17 November 2025

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Sejarah Islam dan Kutai Timur sedang menulis bab baru dalam kitab peradabannya—bab yang akan dibaca dengan kagum oleh generasi mendatang.”(Red:MPI_Kutim)

Share :

Baca Juga

Artikel

SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH YANG KE 113

Artikel

SD MUHAMMADIYAH SANGATTA SELATAN GELAR MIC 2025, CETAK GENERASI QUR’ANI DAN BERPRESTASI

Artikel

Tumbuhkan Karakter Islami Sejak Dini, SD Muhammadiyah Sangatta Selatan Adakan Munaqosah dan Mabit Camp

Artikel

Baitul Arqam PDM dan PDA Bontang-Kutim

Artikel

BUPATI CUP 2025

Artikel

Momentum Tahun baru Islam 1447 H : Mari Luruskan Kembali niat Kita

Berita

Saat Jiwa-Jiwa Mulia Bersatu: Hewan Kurban Menjadi Jembatan Kasih untuk Ribuan Keluarga di Kutai Timur

Berita

Refleksi Kebersamaan Umat dalam Sholat Idul Adha 1446 H