Home / Artikel

Jumat, 19 Desember 2025 - 06:22 WIB

Memahami Kesadaran Sosial Muhammadiyah Melalui Teologi Al-Ma’un

Oleh: Najib Maulana Alfikri

Sebagai warga Muhammadiyah, film sang pencerah menjadi tontonan yang menampilkan sebuah pergulatan teologis. Salah satu adegan kunci ketika salah seorang murid bertanya “kenapa kita sering membahas surah Al-Ma’un, padahal dalam Al-Qur’an itu ada 114 surah”, kemudian jawaban K.H Ahmad Dahlan “sudah berapa banyak anak yatim dan orang miskin yang kamu santuni. Buat apa kita mengaji banyak-banyak surah, tapi hanya untuk dihafal”. Perjuangan Ahmad Dahlan yang di dokumentasikan dalam film sang pencerah menghadirkan sebuah kritik teologis, menuntut peninjauan kembali hakikat ibadah itu sendiri. Kritik ini berpijak pada Surah Al-Ma’un (Surah ke-107), yang secara tajam menuding mereka yang lalai terhadap anak yatim dan orang miskin sebagai pendusta agama al-ladzi yukadhdhibu bid-din.

​Surah Al-Ma’un sudah menjadi landasan gerakan Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Pada Munas ke-27, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengesahkan Fikih Al-Ma’un, yang bertujuan untuk mengubah konsep teologis menjadi panduan hukum dan praksis yang terstruktur.

Surah Al-Ma’un dalam pandangan Muhammadiyah, tidak diposisikan sebagai sekadar anjuran amal, tetapi sebagai kompas spiritual yang mendefinisikan kembali iman. Seperti dijelaskan dalam buku “K.H. Ahmad Dahlan: Pemikiran dan Gerakan” karya Mustofa Wajdi, kritik Al-Ma’un adalah pemicu fundamental yang mengubah arah pergerakan Islam di Indonesia. Ini adalah fondasi filosofis dari mana kesadaran sosial Muhammadiyah dibangun.

Sebagaimana juga ditegaskan oleh Junus Salam dalam buku “Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia” bahwa pembaharuan sejati bermula dari pemahaman ulang terhadap teks suci yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Ontologi Al-Ma’un

​Surah Al-Ma’un menyingkap bahwa keberadaan individu bisa menjadi inautentik atau munafik, ketika muslim memutus rantai keterikatan antara dirinya dengan realitas kemanusiaan. Seorang yang khusyuk dalam shalat, tetapi abai terhadap yang lemah, menunjukkan dualitas wujud yang cacat di mata Tuhan.

Baca Juga  SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH YANG KE 113

Dalam “Tafsir Al-Misbah” karya Quraish Shihab menekankan makna Yudda’ul-Ma’un (enggan menolong dengan barang yang berguna) bukan sekedar sebagai keengganan memberi sedekah besar, tetapi keengganan untuk berbagi hal-hal kecil yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti garam, air, gula atau alat rumah tangga. Hakikat keberadaan mukmin haruslah saling berempati pada hal-hal terkecil, jika enggan berbagi dalam hal sepele, maka itu sudah menjadi bukti dari sikap abai dan keegoisan yang akan menggerogoti keimanan.

​Dalam buku “Teologi Al-Ma’un dan Praksis Sosial dalam Kehidupan Warga Muhammadiyah” karya Muhammad Najib menggarisbawahi bahwa pertolongan (al-Ma’un) adalah manifestasi dari sifat Rabb dan Rahman yang harus diwujudkan oleh manusia. Ini bukan tentang memberi yang berlebih, tetapi tentang partisipasi dalam sifat Ilahi. Pemberi pertolongan hanya menjadi saluran, sehingga menegasikan ego dan riya’ dalam setiap aksi sosial.

Dengan demikian, hakikat pertolongan adalah pengakuan bahwa keberadaan seseorang tidak utuh, jika ada keberadaan lain yang terampas hak dasarnya. Inilah salah satu kritik fundamental terhadap pemahaman agama yang sempit dan individualistik.

Epistemologi Al-Ma’un

​Jika Ontologi Al-Ma’un mengajarkan hakikat keberadaan, maka secara otomatis melahirkan Epistemologi baru, yaitu cara Muhammadiyah mengetahui dan memahami kebenaran Islam. Epistemologi ini menuntut bahwa pengetahuan tentang iman yang otentik hanya dapat diperoleh melalui aksi praksis.

​Kuntowijoyo sebagai salah satu cendekiawan muslim yang merumuskan konsep Tauhid Sosial melalui kerangka Ilmu Sosial Profetik (ISP) sebagai Upaya untuk mengislamisasikan ilmu pengetahuan sosial dengan menjadikan nilai-nilai profetik (kenabian) sebagai dasar hidup. Dalam karyanya “Muslim Tanpa Masjid”, Kuntowijoyo berpendapat bahwa tauhid tidak cukup diyakini secara dogmatis, melainkan harus diwujudkan melalui kesalehan transformatif yang berorientasi pada perubahan sosial. Teologi Al-Ma’un menjadi alat kognitif yang memutarbalikkan pengetahuan, shalat yang sah adalah shalat yang melahirkan kesadaran sosial. Iman tidak diukur dari kedalaman ritual semata, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjadi kekuatan pembebasan.

Baca Juga  Kunjungan ke Labschool, Menpora Coba Kipin ATM

​Oleh karena itu, bagi Muhammadiyah, mendirikan rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan, bukanlah sekadar program kerja, tetapi perwujudan epistemologis dari pemahaman yang benar atas tauhid. Aksi sosial menjadi metode otentik untuk mencapai dan membuktikan pengetahuan tentang kebenaran Islam.

Aksiologi Al-Ma’un

​Teologi Al-Ma’un telah diinternalisasi sedemikian rupa sehingga dapat menggerakkan warga Muhammadiyah untuk melakukan amal usaha secara sistematis dan berkelanjutan. Inilah yang oleh Haedar Nashir dalam buku “Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan” disebut sebagai gerakan pencerahan.

​Gerakan pencerahan ini adalah perwujudan konkret dari dialektika antara teologi dan sosiologi yang mengubah kritik ontologis (pendusta agama) menjadi sebuah etos kerja yang membangun peradaban. Kesadaran ini menolak pandangan bahwa pertolongan adalah sunnah yang opsional, melainkan sebagai rukun fungsional ibadah yang mutlak. Dengan membangun infrastruktur kebaikan, Muhammadiyah telah mengubah kesalehan individual menjadi kesalehan kolektif publik. Kesadaran sosial Muhammadiyah bukanlah sebuah kesadaran sentimental, melainkan sudah berubah menjadi kesadaran aksiologis yang terstruktur.

​Memahami kesadaran sosial Muhammadiyah melalui Teologi Al-Ma’un adalah memahami sebuah revolusi dalam teologi Islam. Dengan menempatkan aksi sosial sebagai tolak ukur keimanan, Muhammadiyah telah berhasil mengubah dogma menjadi energi pembebasan, menjadikan Tauhid Sosial sebagai DNA pergerakan yang terus relevan hingga kini.

Share :

Baca Juga

Artikel

PDM Kutai Timur Gelar Bakti Sosial di Desa Marukangan, Salurkan 50 Paket Sembako

Artikel

“LUAR BIASA!TK dengan Program Tahfidz, Public Speaking & Full Day School di Sangatta

Artikel

Pentingnya Dasar Kebencanaan bagi KOKAM dalam Penanggulangan Bencana

Artikel

MILAD MUHAMMADIYAH KE-113 DI KUTAI TIMUR :Tokoh Nasional Tekankan Pentingnya Toleransi Aktif untuk Persatuan Bangsa

Artikel

SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH YANG KE 113

Artikel

GEMURUH INTELEKTUAL DI AL-FARUQ, Dialog Kebudayaan Islam: Membuka Tabir Sejarah Peradaban Kutai Timur

Artikel

SD MUHAMMADIYAH SANGATTA SELATAN GELAR MIC 2025, CETAK GENERASI QUR’ANI DAN BERPRESTASI

Artikel

Tumbuhkan Karakter Islami Sejak Dini, SD Muhammadiyah Sangatta Selatan Adakan Munaqosah dan Mabit Camp